Tampilkan postingan dengan label Agro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agro. Tampilkan semua postingan

Hama Kutu Kebul

Kutu kebul (Bemisia tabaci) adalah hama yang umum menyerang berbagai jenis tanaman. Serangga kecil berwarna putih ini biasanya bergerombol di bagian bawah daun dan menghisap getah tanaman. Kehadiran kutu kebul dapat menyebabkan kerusakan ganda, yaitu secara langsung merusak tanaman dan secara tidak langsung menjadi vektor atau pembawa virus penyakit, terutama virus kuning (gemini virus).

Berikut adalah beberapa ciri dan dampak dari hama kutu kebul:

  • Ukuran dan Warna: Kutu kebul dewasa berukuran sangat kecil, sekitar 1-2 mm, dan memiliki sayap berwarna putih yang dilapisi lilin. Nimfa (kutu muda) biasanya berwarna kuning pucat hingga transparan dan tidak bersayap.
  • Lokasi pada Tanaman: Mereka sering ditemukan bergerombol di permukaan bawah daun.
  • Kerusakan Langsung: Kutu kebul, baik dewasa maupun nimfa, menghisap cairan atau getah tanaman. Serangan berat dapat menyebabkan daun menguning, keriting, layu, dan pertumbuhan tanaman terhambat. Mereka juga mengeluarkan embun madu, cairan manis lengket yang dapat memicu pertumbuhan jamur jelaga berwarna hitam pada daun, mengganggu proses fotosintesis.
  • Kerusakan Tidak Langsung (Vektor Virus): Kutu kebul adalah vektor utama bagi banyak jenis virus tanaman, khususnya Begomovirus yang menyebabkan penyakit daun kuning keriting. Saat menghisap getah tanaman yang terinfeksi, virus akan ikut terbawa dan ditularkan ke tanaman sehat lainnya.

Gambar Hama Kutu Kebul:




Untuk melihat gambar hama kutu kebul, Anda dapat mengunjungi tautan berikut yang menyediakan berbagai foto dan ilustrasi:

Gambar-gambar ini akan membantu Anda mengidentifikasi hama kutu kebul pada tanaman Anda.

Gejala Serangan pada Tanaman:

  • Daun menguning, mengerut, atau mengecil.
  • Terdapat bercak klorotik (area pucat) atau nekrotik (jaringan mati) pada daun.
  • Adanya embun madu yang lengket di permukaan daun, batang, atau buah, yang seringkali diikuti dengan munculnya jamur jelaga berwarna hitam.
  • Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau terhambat.

Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari praktik budidaya yang baik, penggunaan pestisida nabati atau kimiawi, hingga pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami. Penting untuk melakukan tindakan pengendalian sejak dini untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dan kerugian hasil panen yang signifikan.

Pengendalian hama kutu kebul memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu untuk hasil yang efektif dan berkelanjutan. Berikut adalah berbagai cara pengendalian yang dapat Anda lakukan:

1. Pengendalian Secara Kultur Teknis (Pencegahan dan Budidaya Sehat)

Tindakan pencegahan dan praktik budidaya yang baik sangat penting untuk menekan populasi kutu kebul:

  • Rotasi Tanaman: Hindari menanam tanaman yang sama atau tanaman inang kutu kebul secara terus-menerus di lahan yang sama. Lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang kutu kebul untuk memutus siklus hidup hama.
  • Waktu Tanam yang Tepat: Atur waktu tanam untuk menghindari periode puncak populasi kutu kebul atau migrasi massal dari tanaman inang lain yang sudah tua atau panen. Menanam lebih awal atau menunda waktu tanam bisa menjadi strategi.
  • Sanitasi Lahan: Bersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman dari lahan atau rumah kaca setelah panen, karena dapat menjadi inang alternatif bagi kutu kebul. Membiarkan lahan tidak ditanami (bera) untuk sementara waktu pada suhu hangat juga dapat membantu.
  • Tanaman Sehat: Pastikan tanaman mendapatkan pemupukan yang seimbang agar tumbuh sehat dan lebih tahan terhadap serangan hama. Penggunaan pupuk organik cair disebut dapat membantu menjaga kesehatan tanaman dan mencegah kutu kebul.
  • Penggunaan Mulsa Plastik: Mulsa plastik, terutama yang berwarna perak atau reflektif aluminium, dapat menghalangi kutu kebul menemukan tanaman inangnya dan mengurangi populasi.
  • Tanaman Penghalang (Barier) dan Tumpang Sari: Menanam tanaman penghalang seperti jagung di sekitar tanaman utama atau melakukan tumpang sari dengan tanaman yang tidak disukai kutu kebul (misalnya, bawang daun) dapat mengurangi masuknya hama ke pertanaman.
  • Pengaturan Jarak Tanam: Jarak tanam yang tepat dapat membantu mengurangi penyebaran hama dari satu tanaman ke tanaman lainnya.
  • Pemilihan Varietas Tahan: Jika tersedia, gunakan varietas tanaman yang lebih tahan atau toleran terhadap serangan kutu kebul atau virus yang dibawanya.
  • Pengelolaan Irigasi: Sistem pengairan yang teratur dapat berpengaruh terhadap populasi kutu kebul.

2. Pengendalian Secara Fisik dan Mekanis

Metode ini bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi populasi kutu kebul secara langsung:

  • Perangkap Lengket Berwarna Kuning: Kutu kebul tertarik pada warna kuning. Pasang perangkap lengket berwarna kuning (yellow sticky traps) di sekitar atau di antara tanaman untuk menangkap kutu kebul dewasa. Perangkap ini bisa dibuat sendiri dengan mengoleskan perekat seperti petroleum jelly dicampur sabun cuci tangan pada papan atau strip berwarna kuning.
  • Penyemprotan Air: Menyemprot tanaman dengan air bertekanan sedang dapat membantu merontokkan kutu kebul dewasa, nimfa, dan telurnya dari tanaman.
  • Penggunaan Penyedot Debu: Untuk skala kecil atau tanaman rumahan, penyedot debu genggam dapat digunakan secara hati-hati untuk menyedot kutu kebul dari daun.
  • Rumah Kelambu (Netting House): Penggunaan jaring anti serangga atau rumah kelambu dapat mencegah masuknya kutu kebul ke area pertanaman, terutama pada tanaman bernilai tinggi atau di persemaian.
  • Membuang Bagian Tanaman yang Terserang Parah: Jika serangan masih terbatas, pangkas dan musnahkan daun atau bagian tanaman yang banyak terdapat telur atau larva kutu kebul. Jika serangan sudah sangat parah, mencabut dan membakar tanaman yang terinfeksi bisa menjadi solusi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

3. Pengendalian Hayati (Biologis)

Memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan populasi kutu kebul:

  • Melestarikan Musuh Alami: Hindari penggunaan insektisida berspektrum luas yang dapat membunuh musuh alami kutu kebul. Musuh alami ini meliputi predator seperti kumbang koksi (ladybugs), larva lalat jala hijau (lacewing), kepik (misalnya Orius spp., Geocoris spp./serangga bermata besar), dan tungau predator. Selain itu, terdapat juga parasitoid seperti tawon parasit (misalnya Encarsia formosa dan Eretmocerus spp.) yang meletakkan telurnya di dalam tubuh nimfa kutu kebul.
  • Menanam Tanaman Refugia: Tanam tanaman berbunga di sekitar lahan yang dapat menarik dan menyediakan sumber makanan bagi musuh alami.
  • Penggunaan Jamur Patogen Serangga: Beberapa jenis jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana, Isaria fumosorosea (sekarang sering disebut Cordyceps fumosorosea), dan Verticillium lecanii (sekarang Lecanicillium lecanii) dapat menginfeksi dan membunuh kutu kebul. Produk berbasis jamur ini tersedia secara komersial.

4. Pengendalian Secara Kimiawi (Penggunaan Insektisida)

Penggunaan insektisida sebaiknya menjadi pilihan terakhir dan dilakukan secara bijaksana sebagai bagian dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT):

  • Pestisida Nabati (Botani): Merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Beberapa bahan alami yang dilaporkan dapat digunakan untuk membuat pestisida nabati pengendali kutu kebul antara lain:
    • Ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin.
    • Ekstrak daun tembakau (mengandung nikotin, namun perlu hati-hati karena juga beracun).
    • Ekstrak daun sirsak.
    • Larutan bawang putih dan bawang merah.
    • Larutan cabai rawit.
    • Kunyit.
    • Campuran bawang putih, lidah buaya, daun pepaya, dan serai.
    • Minyak parafin.
    • Sabun insektisida atau larutan sabun cuci piring (semprotkan pada sore atau malam hari saat suhu lebih dingin untuk menghindari kerusakan tanaman).
  • Insektisida Sintetis: Jika serangan sudah parah dan melebihi ambang batas pengendalian, insektisida kimia dapat digunakan. Pilih insektisida yang efektif terhadap kutu kebul dan gunakan sesuai dengan dosis anjuran. Beberapa bahan aktif yang disebut efektif antara lain imidakloprid dan spirotetramat. Selalu perhatikan prinsip 6T dalam penggunaan insektisida: Tepat Sasaran, Tepat Jenis, Tepat Mutu, Tepat Waktu, Tepat Dosis, dan Tepat Cara Aplikasi. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari. 
  • Penggunaan insektisida kimia sebaiknya menjadi langkah terakhir dalam pengendalian hama kutu kebul, dan sangat dianjurkan untuk menerapkannya sebagai bagian dari strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT mengutamakan metode pencegahan, budidaya sehat, dan pengendalian hayati terlebih dahulu.

    Namun, jika serangan kutu kebul sudah parah dan melewati ambang batas pengendalian, penggunaan insektisida mungkin diperlukan. Berikut adalah beberapa bahan aktif insektisida yang dilaporkan efektif terhadap kutu kebul, beserta beberapa contoh merek dagang yang mungkin tersedia di Indonesia.

    Penting untuk diperhatikan:

    • Ketersediaan dan Peraturan: Ketersediaan merek dagang bisa berbeda antar daerah dan waktu. Selalu periksa ketersediaan di toko pertanian terdekat. Peraturan mengenai pestisida juga dapat berubah, jadi pastikan produk yang Anda pilih terdaftar dan diizinkan untuk digunakan.
    • Rotasi Bahan Aktif: Untuk mencegah resistensi hama, sangat penting untuk melakukan rotasi penggunaan insektisida dengan bahan aktif yang berbeda cara kerjanya. Jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara terus-menerus.
    • Baca dan Ikuti Label Petunjuk: Selalu baca dan ikuti petunjuk penggunaan, dosis anjuran, interval penyemprotan, waktu henti semprot sebelum panen, dan petunjuk keamanan yang tertera pada label kemasan.
    • Keamanan Pengguna dan Lingkungan: Gunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani dan mengaplikasikan insektisida. Hindari penyemprotan saat angin kencang atau menjelang hujan. Perhatikan dampaknya terhadap organisme non-target, termasuk musuh alami kutu kebul dan serangga penyerbuk seperti lebah.

    Bahan Aktif Insektisida dan Beberapa Contoh Merek Dagang:

    Berikut adalah beberapa bahan aktif yang telah disebutkan efektif atau ditemukan dalam produk untuk mengendalikan kutu kebul, beserta contoh merek dagangnya (ketersediaan dapat bervariasi):

    1. Imidakloprid: Bersifat sistemik, racun kontak dan lambung.

      • Contoh Merek Dagang: Confidor, Winder, Topdor, Imidor, Besvidor, Caleb Tsan, Bicholin. (Beberapa produk Movento juga mengandung Imidakloprid yang dikombinasikan dengan Spirotetramat).
    2. Tiametoksam: Insektisida sistemik, racun kontak dan lambung.

      • Contoh Merek Dagang: Actara, Alika (Alika adalah campuran tiametoksam dan lamda sihalotrin), Cruiser (untuk perlakuan benih).
    3. Diafentiuron: Bekerja sebagai racun kontak dan lambung, serta menghambat pembentukan energi serangga.

      • Contoh Merek Dagang: Pegasus, Agus.
    4. Spirotetramat: Bersifat sistemik dua arah, menghambat biosintesa lipid.

      • Contoh Merek Dagang: Movento (sering dikombinasikan dengan Imidakloprid).
    5. Abamektin: Memiliki cara kerja kontak dan lambung, efektif untuk trips, tungau, dan juga kutu kebul.

      • Contoh Merek Dagang: Agrimec, Starmek, Jargon, Abacel, Mitigate, Numectin, Cronus, Alfamex, Caleb Tin, Catez, Demolish, Promectin. (Disarankan untuk tidak hanya mengandalkan abamektin untuk kutu kebul karena ada laporan resistensi).
    6. Flupiradifuron (Flupyradifurone): Bahan aktif yang relatif baru, bekerja pada sistem saraf serangga.

      • Contoh Merek Dagang: Sivanto Prime.
    7. Dinotefuran: Insektisida sistemik, racun kontak dan lambung.

      • Disebutkan sebagai bahan aktif yang efektif. Beberapa merek mungkin tersedia.
    8. Siantraniliprol: Bahan aktif yang juga dilaporkan ampuh, bekerja dengan cara disemprotkan.

      • Beberapa merek mungkin tersedia, seperti yang terkandung dalam Minecto Xtra (dikombinasikan dengan lufenuron).
    9. Metomil (Methomyl): Insektisida kontak dan lambung.

      • Contoh Merek Dagang: Lannate, Dangke, Yanet, Metin, Great, Metromil.
    10. Klorfenapir (Chlorfenapyr): Racun kontak dan lambung, mengganggu metabolisme energi serangga.

      • Contoh Merek Dagang: Indofir, Dekapirim (Dekapirim adalah campuran Klorfenapir dan Imidakloprid), Ludo, Rompes.
    11. Asefat (Acephate):

      • Contoh Merek Dagang: Besqueen.
    12. Spiropidion: Menghambat biosintesa lemak.

      • Contoh Merek Dagang: Elestal Neo (campuran spiropidion dan acetamiprid).
    13. Afidopiropen (Afidopyropen):

      • Contoh Merek Dagang: Inveris Gold (campuran afidopiropen dan abamektin).
    14. Bahan Aktif Lainnya yang Mungkin Ditemukan:

      • Deltametrin: Contoh Merek Dagang: Decis.
      • Alfa Sipermetrin: Contoh Merek Dagang: Fastac.
      • Profenofos: Contoh Merek Dagang: Curacron.
      • Pimetrozin: Contoh Merek Dagang: Plenum.

    Rekomendasi Tambahan:

    • Konsultasi: Selalu lebih baik berkonsultasi dengan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) atau ahli pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi insektisida yang paling sesuai dengan kondisi spesifik di daerah Anda dan jenis tanaman yang dibudidayakan.
    • Perhatikan Gejala Resistensi: Jika suatu jenis insektisida sudah tidak efektif lagi, segera ganti dengan bahan aktif dari golongan lain.
    • Aplikasi yang Tepat: Semprotkan insektisida hingga merata ke seluruh bagian tanaman, terutama di permukaan bawah daun tempat kutu kebul sering bersembunyi. Lakukan penyemprotan pada pagi atau sore hari ketika suhu tidak terlalu panas dan aktivitas serangga hama tinggi.

    Ingatlah bahwa penggunaan insektisida kimia adalah solusi jangka pendek. Untuk pengendalian hama kutu kebul yang berkelanjutan, integrasikan dengan metode pengendalian lainnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

5. Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

PHT adalah pendekatan pengendalian hama yang menggabungkan berbagai metode pengendalian yang kompatibel secara ekologis dan ekonomis. Kunci dari PHT adalah:

  • Pemantauan Rutin: Amati lahan secara berkala untuk mendeteksi keberadaan kutu kebul dan tingkat serangannya. Ini membantu dalam pengambilan keputusan pengendalian yang tepat waktu. Periksa batas lahan karena biasanya area ini terinfestasi lebih dulu.
  • Menetapkan Ambang Kendali: Penggunaan insektisida hanya dilakukan jika populasi hama telah mencapai ambang batas yang dapat merugikan secara ekonomi.
  • Mengutamakan Metode Non-Kimia: Prioritaskan metode kultur teknis, fisik/mekanis, dan hayati sebelum memutuskan penggunaan insektisida kimia.
  • Penggunaan Insektisida Selektif: Jika insektisida diperlukan, pilih yang selektif (tidak membunuh musuh alami) dan gunakan dengan bijak.

Dengan menerapkan kombinasi dari berbagai metode pengendalian ini secara terencana dan berkelanjutan, serangan hama kutu kebul dapat dikelola secara efektif sehingga tidak merugikan secara signifikan.


Intisari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025



Intisari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi

Perpres ini bertujuan memperbaiki sistem penyaluran pupuk bersubsidi agar lebih efektif, transparan, dan tepat sasaran. Berikut poin-poin utamanya:

1. Tujuan dan Sasaran  
Perpres ini mengatur tata kelola pupuk bersubsidi untuk :

  • Memastikan penyaluran sesuai kriteria 6T, yaitu Tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan penerima.  
  • Mempercepat distribusi pupuk ke petani mulai 1 Januari 2025, dengan memangkas 145 regulasi lama yang dianggap menghambat proses.

2. Penerima Subsidi dan Mekanisme Pendataan  
  • Petani penerima wajib tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) dan terdaftar dalam sistem e-RDKK (elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).  
  • Pendataan diperbarui setiap 4 bulan untuk memastikan akurasi kebutuhan pupuk.  
  • Penebusan pupuk dapat dilakukan menggunakan KTP atau kartu tani, dengan pengecualian untuk kasus tertentu (misalnya petani diwakilkan).
3. Pencabutan Regulasi Lama
Perpres ini mencabut dua aturan sebelumnya:  
  • Perpres No. 15 Tahun 2011 (Perubahan atas Perpres No. 77 Tahun 2005).  
  • Perpres No. 77 Tahun 2005 tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi sebagai Barang dalam Pengawasan.
4. Implementasi dan Pengawasan
  • Kementerian Pertanian bertanggung jawab atas pendistribusian, termasuk menjamin ketersediaan pupuk di seluruh daerah melalui PT. Pupuk Indonesia.  
  • Kepala Dinas Pertanian Provinsi wajib menetapkan alokasi pupuk hingga tingkat kecamatan untuk menghindari keterlambatan.  
  • Penyaluran pupuk diprioritaskan untuk mendukung swasembada pangan dan menghadapi tantangan perubahan iklim serta geopolitik.
5. Dampak dan Harapan
  • Meminimalisir penyalahgunaan pupuk bersubsidi, seperti penimbunan atau penjualan ke non-petani.  
  • Meningkatkan produktivitas pertanian melalui akses pupuk yang mudah dan tepat waktu.  
  • Memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan merujuk ke dokumen resmi Perpres No. 6 Tahun 2025 atau sumber terkait di [BPK](https://peraturan.bpk.go.id) dan [Kementan](https://serealia.bsip.pertanian.go.id).

Panen Pak Jokowi di Pandere



Setelah sekian lama vacum, akhirnya muncul lagi gairah saya untuk menulis di blog ini. Meskipun awalnya sangat berat, namun akhirnya jari-jari ini mampu mengetik huruf demi huruf yang terangkai menjadi kata, kalimat, hingga menjadi paragraf.

Hari ini saya akan bercerita tentang kunjungan Pak Jokowi ke Provinsi Sulawesi Tengah terkait Kunjungan Kerja (Kunker) beliau ke Desa Pandere, Kabupaten Sigi dalam rangka panen sekaligus pengolahan lahan untuk tanam perdana di daerah tersebut. Acara ini merupakan sisipan dari kunjungan utama Presiden Jokowi dalam peresmian Bendungan dan Daerah Irigasi (DI) Gumbasa di Kabupaten Sigi yang merupakan salah satu dari berbagai macam rangkaian kegiatan kunjungan Jokowi di Provinsi Sulwesi Tengah.

Banyak cerita yang melatari kunjungan Jokowi tersebut, khususnya terkait penjemputan tamu dari Kementerian Pertanian RI. Awalnya saya mendapatkan pesan singkat dari aplikasi whatsapp (WA) dari kepala Bidang PSP bahwa besok (26/03) akan ada kunjungan dari Direktur Alsintan dan rombongan. Kontak pribadi yang diberikan kepada saya an. Bpk Sugiran. Dimana dalam isi pesan tersebut saya diminta untuk stand by jika dibutuhkan dalam penjemputan tamu di bandara. Esoknya pada dini hari sekitar pukul 04.00 wita, saya kembali menerima pesan WA dari Bu Kabid bahwa tamu yang akan dijemput akan tiba pukul 06.15 wita. Hal ini membuat saya sempat terkejut, namun mau tidak mau harus tetap siap sedia menjalankan perintah atasan. 

Tibanya saya di bandara, rupanya sudah ada teman-teman dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikulutra (TPH) Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian Kabupaten Sigi serta dari PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang turut menjemput tamu dari Kementan RI. Adapun tamu yang datang tidak hanya Dir Alsintan dan rombongan, namun ada juga Bpk Ali Jamil selaku Dirjen Prasaran dan Sarana Pertanian Kementan RI, Direktur di Dirjen Tanaman Pangan, Kepala BPPSDM Kementan dan tim dari Pupuk Pestisida, yaitu Bu Karmila, Bpk Tri, dan Bu Novi serta rombongan lainnya dari berbagai macam Subdit. Suatu kejutan bagi saya, karena yang saya tau hanya Dirut Alsin saja pejabat yang akan datang. 

Setelah tibanya mereka di bandara, rupanya agenda kunjugan langsung dilanjutkan ke lokasi Kegiatan yaitu Bendungan Irigasi Gumbasa dan Lokasi Panen Desa Pandere, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi. Jarak dari Kota Palu ke Gumbasa sekitar 40 KM atau waktu tempuh sekitar 1 jam. Disiniah cerita serunya dimulai.

Kunjungan ke Bendungan DI Gumabasa tidak begitu lama, hanya berlangsung sekitar kurang lebih 10 menitan. Dilanjutkan rute ke arah Desa Pandere, disinilah lokasi yang akan dijadikan tempat dilaksanakan Panen raya sekaligus percepatan tanam (tanam culik istilah di Jawa). Bermula dari pukul 08.00 wita saat tiba di lokasi Pak Dirjen PSP mulai meninjau lokasi, bahkan sampai turun langsung ke lokasi persawahan. Beliau memeriksa satu persatu secara detail mulai dari Tanaman Padinya, irigasi, kondisi pematang, kondisi gulma yang beliau minta untuk dicabuti satu persatu dengan tangan, rerumputan yang tumbuh disekitar area lokasi pun dibersihkan dengan mesin paras. Parasan rumput dilakukan hingga jam 13.30 wita tanpa jeda. Inilah ujian terberat, dimana aktifitas di lapangan dilakukan di bulan Ramadhan. Tenggorokan serasa sangat kering bahkan untuk menelan ludah sendiri pun sangat sulit. Kegiatan lapangan terus berlangsung sambil menunggu kedatangan Bpk Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian yang juga akan turut meninjau langsung lokasi panen. 

Sekitar pukul 16.00 wita bapak Mentan pun tiba di lokasi didampingi beberapa pejabat, termasuk Kepala Dinas TPH Provinsi dan Kabupaten Sigi. Dalam kunjungannya Pak Mentan terlihat sangat puas dengan kondisi tanama padi dan lokasi tersebut. Sehingga beliau juga berusaha untuk melobi protokol istana agar dapat mengagendakan pak Jokowi agar mampir ke lokasi ini. 

Waktu terus bergulir hingga menjelang buka puasa, rupanya Pak Dirjen PSP sedang menunggu kedatangan Tim Potokol Istana (Protis) ke lokasi, sebab merekalah yang akan menentukan jadi tidaknya kunjungan Jokowi ke lokasi tersebut. Akhirnya mereka tiba di lokasi dibarengi dengan kondisi hujan lebat. Sampai waktu berbuka Pak Dirjen, tim protis dan tim rombongan PSP masih berdiskusi di area persawahan. Sepertinya pak Dirjen berusaha meyakinkan agar Pak Jokowi bisa hadir dalam kegiatan besok (27/03) di Desa Pandere. Dan acara persiapan ini ditutup dengan Buka Puasa bersama tim rombongan Dirjen PSP bersama Bid PSP Dinas TPH Sulteng di restoran Latoratima Desa Kalukubula Kabupaten Sigi.

Tibalah pada hari H, di hari Rabu, 27 Maret 2024 tepat pukul 05.00 wita saya langsung meluncur ke Hotel Rama, tempat tamu dari Subdit Pupuk Pestisida bermalam. Begitu tiba di hotel kami langsung meluncur ke lokasi, suasana jalan masih sepi dari kendaraan. Hanya ada beberapa kendaraan lalu lalang dan pejalan kaki yang baru selesai pulang dari sholat subuh di masjid.

Tidak lama setelah tiba di lokasi, disusul oleh rombangan Pak Dirjen PSP, tim dari BPPSDM, pejabat-pejabat daerah terkait, Bupati, Penyuluh Pertanian Lapangan, serta para petani yang ikut menunggu kehadiran bapak Jokowi.

Sekitar pukul 10.30 Wita akhirnya rombongan Pak Jokowi tiba, disertai sambutan dari semua yang hadir di lokasi tersebut. Aura beliau sebagai orang nomor 1 di Indonesia sangat terpancar membuat kami yang hadir begitu penasaran ingin melihat sosok beliau dari dekat. Beliau juga turut membagikan buku, sembako, kaos, dan amplop kepada petani dan warga yang hadir. Tidak sedikit warga yang meminta berfoto bersama beliau. Disnilah ciri khas beliau yang sangat merakyat, yang sangat dekat dengan masyarakat kecil, sehingga sloga Presiden Wong Cilik sangat cocok disematkan untuk beliau.

Kunjungan beliau ke Sulawesi Tengah mungkin saja menjadi kunker beliau terakhir di daerah ini, mengingat pada bulan Oktober nanti beliau akan melantik Presiden Indonesia ke 08 terpilih yakni Bapak Prabowo Subianto. Semoga kesehatan selalu menyertai para pemimpin-pemimpin kita. Aamiin.

Demikianlah serangkaian cerita saya perihal kunjungan orang nomor 1 di Indonesia tersebut. Semoga catatan ini menjadi memoar  perjalanan hidup sekaligus perjalanan karis saya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lingkup Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulwesi Tengah.

-- Ikbal Buntaran --

 


  

  



Bulan depan saya genap 1 tahun menjadi Pegawai Negeri Sipil. SK pengangkatan 80% ter tanggal 1 Maret 2022. Setelah melewati ujian SKD dan SKB dipenghujung tahun 2021 akhirnya tepat tanggal 24 Desember 2021 saya dinyatakan lulus sebagai PNS di lingkungan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikuktura Provinsi Sulawesi Tengah.

Sebelumnya selama 10 tahun sejak Maret 2011 saya bekerja sebagai Karyawan Swasta di PT. Agri Makmur (8 thn), PT. Maju Makmur Utomo (1,5 thn) dan PT. Eureeka Great Nusantara (6 bulan). Tiga perusahaan tersebut menjadi tempat belajar bagi saya dalam dunia kerja. Alhamdulillah banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan.

Formasi jabatan yang saya isi pada seleskis CPNS 2021 yang lalu adalah Pengawas Pupuk dan Pestisida, yang secara umum bertugas dalam melalkukan pengawasan terhadap penyediaan, penyaluran, dan penggunaan Pupuk dan Pestisida di Propinsi Sulawesi Tengah. Pengalama 10 tahunsaya di dunia industri benih, nutrisi/pupuk dan pestisda sangat memberikan pengaruh besar pada jabatan tersebut. 


#ASN_Berakhlak #PupukPestisida

Ganoderma "momok" bagi Petani Sawit

 Ganoderma “momok” bagi petani sawit

 Ganoderma adalah organisme eukariotik yang digolongkan ke dalam kelompok jamur sejati karena dapat bertahan lama di dalam tanah. Dinding selnya terdiri atas kitin, namun tidak memiliki klorofil. Jamur ini mendapatkan makanan dengan cara heterotrof, yaitu dengan mengambil makanan dari bahan organik di sekitar tempat tumbuhnya. Organisme ini bersifat saprofitik (dapat hidup pada sisa tanaman) karena akan berubah menjadi patogenik bila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit sehat yang tumbuh di dekatnya.

Jamur ini menjadi momok menyeramkan dalam dunia persawitan. Petani sawit akan merasa terganggu jika penyakit ini sudah menyerang tanaman mereka. Betapa tidak, begitu terjangkit jamur Ganoderma, maka selain produksi Tandan Buah Segar (TBS) mengalami penurunan drastis, pembentukkan bunga dan buah berkurang serta dalam kurun waktu 6 sampai 12 bulan pohon akan mati total serta meninggalkan inokulum Ganoderma yang siap menyerang sawit sehat di sekitarnya dalam jarak radius 200 meter.

Bagaimana ciri-ciri tanaman sawit terkena Ganoderma?

 

1. Lihat daunnya

Tanaman sawit sehat pasti memiliki pertumbuhan vegetatif tanaman lebih baik, dimana warna daun lebih hijau mengkilat. Akan tetapi jika Anda menemukan warna daun yang buram tidak mengkilat, layu seperti kekurangan air, warna daun menguning, serta terdapat bercak-bercak kuning pada daun (nekrosis), dapat dipastikan bahwa tanaman sawit tersebut terinfeksi jamur Ganoderma (penyebab penyakit busuk pangkal batang).


2. Pelepah pucuk pada daun

Jika pada pelepah pucuk paling atas lebih kecil daripada yang ada di bawah, maka dapat dipastikan tanaman tersebut terinfeksi jamur Ganoderma. Kalau gejala ini muncul, dipastikan tanaman sudah memasuki stadium 1.


3. Muncul miselia benang-benang putih

Gejala ini sudah memasuki stadium 2 dari penyakit busuk pangkal batang. Munculnya bisa dilihat dari tumbuhnya benang-benang putih pada pangkal batang dan akar. Pertumbuhan misilia juga menjadikan keadaan daun menjadi kering (nekrosis pada ujung daun).


4. Munculnya basidiokarp di akar

Hati-hati ketika melihat daerah seputar akar dan menemukan bentuk meyerupai tubuh buah jamur Basidiocotina. Kalau basidiokarp muncul, maka penyakit pangkal busuk pada tanaman sawit Anda sudah mencapai stadium 3.


5. Munculnya 3 daun tombak

Seramnya serangan jamur ini semakin parah kalau Anda menemukan 3 daun tombak yang tidak membuka pada pucuk serta berpatahannya pelepah dan anak daun yang mengering.


6. Pelepah Berpatahan

Perlu meningkatkan kewaspadaan jika sudah menemukan pelepah pada tingkat 4, 5, dan 6 sudah berpatahan. Seluruh daun juga akan berpatahan dan menggantung di pohon. Biasanya pada tahap stadium tersebut, pohon sawit sebenarnya tinggal menunggu matinya saja.


7. Tumbangnya Pohon

Daun menjuntai ke arah bawah disertai dengan ciri pangkal tanaman pun ikut patah merupakan tanda tanaman kelapa sawit mengidap penyakit jamur Ganoderma dan telah berada di tahap stadium 4. Ibarat kanker yang sulit untuk disembuhkan pada stadium ini, penyakit ini pun demikian.

Sumber artikel: klik disini