Wadah pengembangan diri melaui tulisan; sebuah wasilah untuk mengembangkan dan mengeksplorasi diri tentang dari mana, untuk apa dan akan kemana hakikat hidup ini.
Dari Bertani Sampai Budaya
Kemungkinan asumsi saya yang menjadi faktor pendukung kesuksesan adalah kulutr dari masyaraka itu sendiri. Sekali lagi saya katakan ini masih asumsi, belum berdasarkan hasil studi penelitian semisal survei langsung ke daerah tersebut. Namun asumsi ini bukan berarti tidak beralasan. Beberapa hal yang saya jadikan dasar pertimbangan saya adalah hasil pantauan dilapangan dan membandingkannya dengan daerah lain yang sebenarnya memiliki potensi wilayah yang sama namun sektor pertaniannya tidak berkembang. Contohnya daerah Sigi-Biromaru yang berada di jalur timur, khususnya Kec Marawola, Kab Ampana mulai dari Kec Tojo sampai Ampana Tete. Selain daerah transmigrasi yang saya sebutkan tadi, daerah-daerah lainnya belum ada yang menyaingi.
Ada satu wilayah yang non-transmigrasi yang sebutkan, yakni Soni-Bangkir dan sekitarnya. Nah coba kita telusuri, wilayah tersebut juga daerah pemukiman warga pendatang, bukan warga asli setempat. Mari kita cari daerah pertanian yang penduduk aslinya sukses bertani. Mungkin kita akan memasukkan desa Sibalaya yang berada di Kab Sigi, tapi anda tahu berapa luasannya? Hanya sekitar 300 ha, itu pun kita belum menghitung volume panennya dalam setahun, tentunya masih tertinggal jauh. Sebab kesadaran dan kemampuan budidayanya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan warga transmigrasi.
Perut Kampung
Pernah dengar istilah "perut kampung"? Kalimat ini maknanya adalah sindiran untuk orang-orang kalo makan makanan mewah, misalnya ala2 eropa bawaannya suka mules. Dan di Indonesia itu sering terjadi di musim lebaran kayak begini, hehehe... Biasanya kalo sudah makan banyak kue berbahan mentega ditambah minuman soda merah, hitam, bening plus sirup kuning dan hijau, maka bercampurlah semua itu di dalam perut yang kemudian pada akhirnya beberapa waktu kemudian akan bertanya "maaf ya, kamar kecilnya dimana?".
Rahasia Semangka Non Biji
Sekarang ini sering kita jumpai berbagai jenis semangka di supermarket, mulai dari lonjong, bulat, lurik, gelap bahkan ada yang eksklusif mengembangkan semangka berbentuk kubus.
Trend baru di semangka adalah semangka seedless (sedikit berbiji). Suatu kenikmatan bila kita bisa mengkonsumsi manisnya semangka tanpa harus diganggu oleh biji yang nyangkut di gigi ataupun tertelan masuk ke perut.
Dunia pertanian semakin maju, para ilmuwan pertanian mampu mengembangkan varietas unggulan dengan banyak kelebihan terutama yang diinginkan oleh konsumen, salah satunya adalah semangka seedless.
Semangka seedless merupakan hasil persilangan antara tanaman tetraploid 4n dengan tanaman diploid 2n yang menghasilkan biji triploid 3n. Dalam perkembangannya tanaman 3n tidak mampu menghasilkan buah karena dia tidak menghasilkan pollen, untuk itu dalam membudidayakan semangka seedless 3n petani membutuhkan pollen dari tanaman semangka 2n lainnya.
Buah hasil dari tanaman 3n inilah yang kemudian menghasilkan seedless atau berbiji sedikit, masih ada potensi biji dalam buah seedless tapi tidak sebanyak tanaman semangka normal lainnya.