PETANI, BUAH LABU DAN BERINGIN
Suatu ketika ada seorang petani yang rajin sedang beristirahat sembari memandangi tanaman labu yang saat itu telah berbuah. Sebagaimana buah labu, ukurannya besar. Melebihi ukuran buah pohon beringin gemat dimana ia sedang berteduh sekaligus beristirahat.
Beberapa saat kemudian sang petani tadi memandangi buah tanaman labu yang berada tepat berada di depannya. Selanjutnya ia pun menengadah melihati buah beringin yang tepat berada di atas kepalanya. Di dalam benaknya terlintas pikiran yang mempertanyakan keadilan Tuhan. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa bisa pohon labu yang begitu lebih kecil dibandingkan dengan pohon
beringin menghasilkan buah yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan ukuran buah beringi? Padahal ukuran pohon beringin sangat jauh lebih besar daripada tanaman labu itu sendiri. Dimana letak keadilan Tuhan disini?Suatu ketika ada seorang petani yang rajin sedang beristirahat sembari memandangi tanaman labu yang saat itu telah berbuah. Sebagaimana buah labu, ukurannya besar. Melebihi ukuran buah pohon beringin gemat dimana ia sedang berteduh sekaligus beristirahat.
Beberapa saat kemudian sang petani tadi memandangi buah tanaman labu yang berada tepat berada di depannya. Selanjutnya ia pun menengadah melihati buah beringin yang tepat berada di atas kepalanya. Di dalam benaknya terlintas pikiran yang mempertanyakan keadilan Tuhan. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa bisa pohon labu yang begitu lebih kecil dibandingkan dengan pohon
Sembari melamun memikirkan pertanyaannya tadi, petani tadi merebahkan tubuhnya tepat dibawah pohon beringin tersebut. Kemudian terlintas lagi didalam benaknya, ia merasa sangat beruntung bahwa Tuhan masih menyediakan tanaman besar nan rindang seperti beringin umtuk dijadikan tempat berteduh.
Tak lama beberapa saat kemudian buah pohon beringin yang disinggahinya jatuh tepat diatas hidungnya. Seketika itu ia tersentak dan memohon ampun kepada Tuhan.
Mengapa demikian? Sebab jika saja saat itu Tuhan mengiyakan apa yang dipikirkannya maka hari itu juga mungkin saja hidungnya akan mengucurkan darah dan ssakitnya luar biasa.
Seketika setelah kejadian itu, ia langsung meralat apa yang sudah dia ucapkan sebelumnya menjadi kalimat "Tuhan Maha Adil"
Ikbal Buntaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar anda