Petaniku yang terjajah

Sudah 66 tahun Negara ini merdeka, tapi sayangnya sektor agribisnis dan agroindustri yang mejadi unggulan negeri ini masih didominasi oleh asing, terutama benih dan pestisida. Namun yang menjadi sorotan utama dalam tulisan ini adalah benih.

Meskipun saat ini telah bermunculan banyak perusahaan benih nasional, namun masih belum mampu menyaingi dominasi perusahaan-perusahaan benih kaki tangan asing. Padahal tidak sedikit para breeder benih yang bekerja di perusahaan modal asing adalah putra-putri bangsa ini.

Hal ini tidak terlepas dari budaya kebanyakan petani Indonesia (khususnya wilayah Gorontalo) yang fanatic terhadap merek tertentu . Kekurang percayaan mereka terhadap benih-benih produk dalam negeri menyebabkan benih-benih produk asing sulit untuk disaingi. Alasan mereka bahwa kualitas benih-benih Indonesai masih kalah bersaing dengan benih-benih perusahaan asing tersebut. Kadang petani-petani kita terlalu men-generalisasi masalah yang mereka hadapi. Padahal mereka hanya melihat dan berpatokan pada satu masalah yang pernah mereka alami. Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi. Sebelumnya mereka pernah ditawari benih tomat varietas F1 salah satu perusahaan nasional dengan merek ‘X’. Namun, ketika ditanam hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Setelah ditelusuri, rupanya benih tersebut sebenarnya varietas yang cocok ditanam di dataran tinggi. Hanya karena varietas tomat merek ‘X’ yang tidak memuaskan berdampak pula pada jenis-jenis benih lainnya yang diproduksi oleh perusahaan benih nasional tersebut.

Trauma dengan peristiwa tersebut, akhirnya mereka tetap bertahan dengan benih Y yang merupakan benih asing. Namun mereka pun tidak menyadari, bahwa kebanyakan benih-benih merek Y sangat payah jika ditanami di dataran tinggi. Hadehhh, petani-petani kita terlalu mudah dipengaruhi oleh petugas-petugas lapangan dari perusahaan benih asing tersebut.

Inilah PR bagi kita semua. Memang kompetisi itu wajar. Namun, sampai kapan kita harus terus terjajah seperti ini. Toh, yang bekerja diperusahaan-perusahaan benih asing tersebut adalah putra putri bangsa ini. Mengapa tidak mengabidkan diri untuk negeri sendiri?

Bersambung…

--Ikbal Buntaran--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda